Kata-kata Acuanku

“Kehidupan di dunia ini tidak pernah lepas dari apa yang disebut dengan ilmu pengetahuan serta kepercayaan. Maka keselarasan akan ilmu pengetahuan dengan kepercayaan sangatlah penting demi terciptanya suatu pandangan keilmuan duniawi yang tidak bertentangan atau melecehkan hukum-hukum kepercayaan yang bersifat sakral”

Dunia Mikrofluida

”Mikrofluida itu adalah ilmu yang mengkaji mengenai fluida pada skala lebih dari 100 mikrometer. Sedangkan, fluida adalah zat yang dapat mengalir, misalnya zat cair dan gas.”

(Dr. Gea O.F. Parikesit)

Itulah sebuah definisi kecil dari “mikrofluida” yang saya dapatkan sewaktu mengikuti kuliah Kalkulus Elementer di Jurusan Teknik Fisika UGM.

Kuliah Kalkulus Elementer minggu ke 3, Awalnya saya tidak menempatkan diri saya pada situasi yang tepat, karena ada suatu “stimulus” pada otak yang mengimplementasikan terhadap tubuh saya dengan perasaan ngantuk berat.

Dasar dari keilmuan yang saya (cukup) minati dan kuasai ialah biologi dan saya bertempat tinggal di jurusan yang 90% dari keseluruhan ilmunya, dilandaskan kepada ilmu matematika dan fisika terapan. Hal tersebut bukan berarti, menahan atau menghentikan langkah saya untuk maju mengembangkan dasar yang saya miliki dan menggabungkannya dengan semua bidang terkait demi mendapatkan hasil yang sempurna.

Tuhan memang adil, entah suatu kebetulan? sebelum saya mengikuti mata kuliah yang membuka lebar pandangan saya tentang mikrofluida, saya sudah lama membayangkan suatu cabang keilmuan teknik yang disebut “biomedis”.

Berbagai macam ide telah tertuang dan bercampur aduk dalam otak terkait masalah keilmuan tersebut.

Salah satunya ialah sistem analisis penyakit sederhana menggunakan obyek fluida tubuh (ex. darah, sperma, liur, dsb). Hal itu saya tuangkan dalam binder kecil saya yang pada saat ini entah kemana.

Saya berandai-andai bisa membuat suatu alat yang bisa membantu masyarakat awam mengenal penyakit yang dapat ditinjau dari fluida tubuh (diagnosis menggunakan kecenderungan tertentu pada fluida tubuh). Suatu alat yang efisien dan komunikatif terhadap user menurut pandangan saya.

Akan tetapi, banyak hal yang saya temukan menghambat pengembangan ide saya yaitu :

1. Penciptaan Instrument yang terkesan agak “mustahil”

2. Sistem Identifikasi Mikro Berbasis Komputer

3. Keakuratan

4. Sampel Uji

Hal-hal tersebut sebelumnya menjadi hal yang menahan saya untuk mengembangkan ide gila saya. Hingga pada suatu ketika saya mengikuti kuliah pencerahan. Hari itu seperti biasa Pak Gea memberikan kuliah yang penuh kejutan.

Kejutannya pada kali ini ialah suatu mikroskop sederhana dari webcam komputer sebagai buah karyanya.

Hasil yang diperoleh melalui analisa pencitraan kuantitatif memang cukup mencengangkan:

dengan harga “hanya” ratusan ribu rupiah, sebuah mikroskop dapat dibangun dengan cepat dan langsung dipakai untuk melihat objek dengan ukuran terkecil 7 mikrometer (sekitar 30 kali lebih tipis daripada rambut manusia).  Suatu terobosan dimata penikmat biologi mikro!

Ini membuka jalan terhadap hambatan yang saya hadapi sebelumnya.

Sebuah instrument optik untuk memantau fluida dengan apik yang berbasis mikrokontroller yang dikendalikan secara dialog user pada komputer, menjadikan impian saya tentang suatu sistem analisis penyakit berbasis rumahan akan segera terwujud. Jika bukan saya yang memanifestasikannya nanti, saya yakin akan ada seseorang yang menjadikannya nyata.

Namun demikian, sejumlah keterbatasan juga dimiliki oleh mikroskop hasil oprekan tersebut: kualitas lensanya yang tidak sempurna menyebabkan citra mengalami degradasi kualitas di bagian tepi. Meski begitu, masalah ini dapat diatasi dengan teknik pengolahan citra digital yang tidak terlalu sulit.

Di postingan selanjutnya saya akan berbagi tentang rancangan awal saya terhadap sistem tersebut.

Satrio.

Penjelasan istilah penting :

1. Ilmu Biomedis

2. Instrumentasi

3. Mikrofluida (in English)

4. Teknik Fisika UGM